Perusahaan dapat mengalokasikan anggaran yang besar untuk menjalankan program CSR/TJSL. Namun, setelah program selesai, pertanyaan yang perlu dijawab seharusnya tidak berhenti pada “berapa anggaran yang sudah terserap?”
Pertanyaan berikutnya justru lebih penting:
Apa yang berubah setelah investasi tersebut dikeluarkan?
Dan pada akhirnya:
Setiap Rp1 yang dikeluarkan perusahaan menghasilkan nilai dampak sebesar apa?
Pertanyaan inilah yang dapat dibantu dijawab melalui Social Return on Investment (SROI).
Dari Aktivitas Menuju Dampak
Dalam pelaksanaan CSR, perusahaan relatif mudah mencatat jumlah kegiatan yang telah dilakukan. Misalnya, sebuah program pemberdayaan UMKM menghabiskan anggaran Rp500 juta dan berhasil:
- melatih 100 pelaku usaha;
- menyelenggarakan 10 sesi pelatihan;
- memberikan bantuan alat produksi; dan
- melakukan pendampingan selama enam bulan.
Data tersebut penting, tetapi sebagian besar masih menunjukkan output. Jumlah peserta, sesi pelatihan, atau bantuan yang diberikan belum otomatis menunjukkan bahwa perubahan telah terjadi.
Dampak mulai terlihat ketika perusahaan dapat menjawab hal-hal seperti:
Apakah pendapatan peserta meningkat? Apakah usaha mereka bertahan? Apakah kapasitas produksi meningkat?
Artinya, evaluasi CSR perlu bergerak dari: Input → Aktivitas → Output, menjadi: Input → Aktivitas → Output → Outcome → Dampak
Jadi, Apa Itu SROI?
SROI merupakan pendekatan untuk memahami, mengukur, dan mengelola nilai sosial, ekonomi, serta lingkungan yang tercipta dari sebuah program atau aktivitas. Social Value International menempatkan SROI sebagai kerangka untuk mengukur dan mengelola social value, bukan sekadar menghasilkan angka rasio.
Secara sederhana, rasio SROI dapat digambarkan sebagai:
SROI = Nilai Dampak yang Dihasilkan ÷ Nilai Investasi, Misalnya sebuah program membutuhkan investasi sebesar Rp500 juta, sementara nilai dampak yang diperhitungkan mencapai Rp1,5 miliar.
Maka rasio SROI-nya adalah: 3 : 1
Artinya, setiap Rp1 investasi menghasilkan sekitar Rp3 nilai sosial.
Namun, Rp3 tersebut bukan berarti perusahaan memperoleh keuntungan tunai Rp3.
Nilai tersebut merepresentasikan manfaat sosial, ekonomi, atau lingkungan yang dimonetisasi agar dapat dibandingkan dengan sumber daya yang telah digunakan.
Menghitung SROI Tidak Cukup dengan Menjumlahkan Semua Manfaat
Di sinilah analisis SROI menjadi lebih menarik. Misalnya, setelah program pemberdayaan berlangsung, pendapatan kelompok penerima manfaat meningkat Rp1 miliar.
Perusahaan tidak bisa langsung menyatakan:
“Program kami menghasilkan dampak Rp1 miliar.”
Mengapa? Karena bisa saja sebagian perubahan tetap terjadi walaupun program tidak pernah dilaksanakan. Bisa juga terdapat kontribusi pemerintah, komunitas, organisasi lain, atau perubahan kondisi pasar. Karena itu, pengukuran SROI mengenal proses fiksasi dampak.
Dalam praktiknya, analisis dapat mempertimbangkan antara lain:
- Deadweight, yaitu perubahan yang kemungkinan tetap terjadi tanpa adanya program.
- Attribution, yaitu seberapa besar kontribusi pihak lain terhadap perubahan tersebut.
- Displacement, yaitu apakah manfaat yang terjadi justru memindahkan masalah ke tempat atau kelompok lain.
- Drop-off, yaitu kemungkinan manfaat program berkurang ketika berlangsung dalam beberapa periode.
SROI dalam Penilaian PROPER
Selain digunakan untuk memahami dampak program, SROI juga memiliki posisi penting dalam PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup).
PROPER merupakan program penilaian kinerja lingkungan perusahaan yang dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). Hasil penilaiannya diumumkan kepada publik melalui peringkat Emas, Hijau, Biru, Merah, dan Hitam, sehingga capaian PROPER juga dapat menjadi salah satu cerminan kinerja lingkungan dan reputasi suatu unit usaha.
Bahkan, bagi perusahaan yang telah ditetapkan sebagai kandidat PROPER Emas, dokumen perhitungan Social Return on Investment (SROI) menjadi salah satu dokumen yang wajib disampaikan dalam tahapan penilaian kandidat Emas.
PROPER sendiri menjelaskan tahapan SROI mulai dari penetapan ruang lingkup dan stakeholder, pemetaan outcome, penetapan indikator dan nilai, fiksasi dampak, perhitungan SROI, hingga pelaporan.
Tujuannya agar perusahaan tidak mengklaim seluruh perubahan sebagai hasil intervensinya sendiri.
Mengapa SROI Penting bagi Perusahaan?
Nilai terbesar SROI sebenarnya bukan terletak pada satu angka di bagian akhir laporan. Proses pengukurannya membantu perusahaan mengetahui:
intervensi mana yang paling menghasilkan perubahan, siapa yang paling memperoleh manfaat, program mana yang perlu diperbaiki, dan bagaimana investasi sosial berikutnya dapat dirancang lebih efektif.
Misalnya sebuah program memiliki tiga intervensi:
pelatihan → pemberian alat → pendampingan pemasaran.
Setelah dianalisis, ternyata pendampingan pemasaran memberikan kontribusi paling besar terhadap peningkatan pendapatan peserta. Informasi seperti ini memungkinkan perusahaan mengambil keputusan yang lebih baik untuk program selanjutnya.
Dengan demikian, SROI bukan sekadar alat untuk mengatakan: “Program kami berdampak.”
Tetapi membantu menjawab: “Bagian mana dari program yang benar-benar menciptakan dampak?”
Jadi, Rp1 Perusahaan Menghasilkan Dampak Berapa?
Jawabannya tidak bisa ditentukan hanya dari jumlah kegiatan, banyaknya penerima manfaat, atau besarnya anggaran.
Perusahaan perlu memahami perubahan apa yang benar-benar terjadi, siapa yang mengalaminya, seberapa besar kontribusi program terhadap perubahan tersebut, dan berapa nilai perubahan yang layak diperhitungkan.
Karena pada akhirnya, keberhasilan CSR bukan hanya tentang: “Berapa rupiah yang sudah dibelanjakan?”
Tetapi: “Setiap Rp1 yang kita investasikan berhasil menciptakan perubahan sebesar apa?”
Ukur Dampak Program Anda
T.CARE mendukung perusahaan dalam pengukuran dampak dan Social Return on Investment (SROI) untuk membantu memahami nilai yang dihasilkan program sekaligus memperkuat pengambilan keputusan CSR/TJSL berikutnya.
Diskusikan kebutuhan perusahaan Anda bersama T.CARE.
📞 0811-8806-5320
📲 @tcare.co.id
🌐 tcare.co.id
Referensi: Social Value International — The Guide to SROI
Baca sumber





